Ulasan Mendalam: Kimi no Na Wa
December 9, 2016
Jepang sudah lama menjadi kiblat animasi di Asia, tapi sudah lama mereka tidak menggebrak dunia semenjak kejayaan Ghibli hingga tahun lalu. Kali ini, Makoto Shinkai dan ComixWave menjawab kekosongan kekuasaan animasi Asia dan menggebrak dunia dengan sebuah film yang tidak diduga-duga keberadaannya, Kimi no Na Wa (Your Name).
Tentunya kualitas animasi dan konsep tidak perlu ditanyakan lagi, namun apa yang membuat Kimi no Na Wa menjadi luar biasa dan disorot banyak pasang mata? Mari kita lihat lebih dekat.
Berikut sinopsis dari film Kimi no Na Wa :
The day the stars fell, two lives changed forever. High school students, Mitsuha and Taki, are complete strangers living separate lives. But one night, they suddenly switch places. Mitsuha wakes up in Taki’s body, and he in hers. This bizarre occurrence continues to happen randomly, and the two must adjust their lives around each other. Yet, somehow, it works. They build a connection and communicate by leaving notes, messages, and more importantly, an imprint. When a dazzling comet lights up the night’s sky, something shifts, and they seek each other out wanting something more – a chance to finally meet.
terjemahannya coy
Hari saat bintang-bintang berjatuhan, dua kehidupan berubah selamanya. Para remaja SMA, Mitsuha dan Taki, adalah dua insan yang saling tidak mengenal satu sama lain. Namun suatu hari, mereka bertukar tempat. Mitsuha terbangun dalam tubuh Taki, begitu pun Taki di dalam tubuh Mitsuha. Kejadian menghebohkan ini berlanjut terus, dan keduanya harus beradaptasi di kehidupan satu sama lain. Uniknya, itu berhasil. Mereka membangun hubungan dan berkomunikasi dengan catatan, pesan, dan, yang paling penting, bekas tulisan. Ketika sebuah komet yang mempesona menyala di langit malam, sesuatu berubah, dan mereka mencari satu sama lain akan keinginan mereka yang lebih – kesempatan untuk akhirnya bertemu.
Kimi no Na Wa (atau dalam bahasa Inggris, “Your Name”) adalah film studio ComixWave yang disutradarai dan ditulis oleh Makoto Shinkai, diproduseri oleh Noritaka Kawaguchi (Hoshi no Ou Kodomo, Kotonoha no Niwa) dan Genki Kawamura (The Boy and The Beast, Parasyte), serta desain karakter oleh Masayoshi Tanaka (Ano Natsu de Matteiru, Anohana). Film ini diadaptasi dari novel berjudul sama karya Makoto Shinkai yang sebelumnya telah terbit pada bulan Juni 2016.
Dengan mengambil tema romansa fantasi modern, Kimi no Na Wa membawa penontonnya kepada kisah kasih antara dua remaja dalam petualangan melintasi waktu. Tema ini bukanlah yang pertama kali dipopulerkan di layar lebar Jepang, namun tidak banyak yang kembali mengangkat tema remaja seperti ini. Begitu besar antusiasme dan pujian terlontar bagi film ini, terlebih mengingat bahwa pria di belakangnya, Makoto Shinkai, adalah animator Jepang handal yang sudah lama ditunggu-tunggu sepak terjangnya. Kalau begitu, apa saja yang membuat Kimi no Na Wa begitu menggaung di Jepang, Asia, bahkan dunia?
Berbeda dari film pada umumnya, Kimi no Na Wa menampilkan opening sequence terpisah layaknya seri animasi atau film-film animasi franchise besar seperti Doraemon. Dengan diriingi lagu “Yumetorou” dari RADWIMPS, mungkin film ini terasa lebih seperti seri dibandingkan film seutuhnya. Bagi beberapa penonton, mungkin opening sequence ini menampilkan hal-hal yang bisa dibilang merangkum atau bahkan cenderung spoiler, terlebih lagi yang ditampilkan hanya dua karakter dengan berbagai simbolisme. (bisa dilihat di sini)
Di kalangan penonton animasi Jepang maupun dunia, Makoto Shinkai merupakan salah satu ahli terbaik di bidangnya. Tidak ada yang mengenal Makoto Shinkai tanpa ilustrasi pemandangan khas beliau yang selalu menjadi primadona di setiap karyanya.
Seperti film-film buatan beliau yang lain, Kimi no Na Wa juga memiliki semacam signature scene sebagai ciri khas utama dari film tersebut. Kimi no Na Wa memperkenalkan adegan “membuka pintu”, seperti pintu kereta atau pintu rumah. Jika dihitung, mungkin ada 5-6 kali penonton disuguhkan dengan animasi “membuka pintu” dalam berbagai tempat dan kondisi.
Selain itu, pemandangan khas lainnya adalah pemandangan langit yang selalu ditunggu-tunggu penontonnya. Kali ini, Kimi no Na Wa menyuguhkan pemandangan langit dengan meteor seperti yang sudah ditampilkan di dalam poster, yang tentunya menjadi “adegan kunci” dari film ini.
Tidak hanya itu, visual yang ditampilkan di Kimi no Na Wa tidak hanya berupa cell-shading. Beberapa adegan menggunakan visual animasi khusus yang menggabungkan ilustrasi karakter dengan pewarnaan ala pensil warna. Ini mengingatkan kita kepada variasi animasi eksperimental di seri animasi Kung Fu Panda. Tentunya ini menjadi salah satu kejutan yang menyenangkan mengingat Makoto Shinkai tidak sesering itu melakukan animasi eksperimental terhadap karyanya di luar angle gambar, variasi pemandangan, dan pewarnaan.
Khusus untuk ilustrasi karakter, Masayoshi Tanaka memang memiliki kualitas desain yang cocok dengan animasi milik Makoto Shinkai. Desain karakter Miyamizu Mitsuha yang ikonik dengan tali rambutnya tentu menjadi pemikat tersendiri bagi penonton. Selain Mitsuha, karakter-karakter lain yang mungkin tidak terlalu terlihat juga tetap menarik namun realistis, seperti Okudera Miki dan Miyamizu Yotsuha. Yang unik adalah Masayoshi Tanaka dan Makoto Shinkai memiliki gaya gambar yang saling beradaptasi satu sama lain. Meski yang mendesain berbeda, penonton lama karya-karya Makoto Shinkai masih bisa melihat nuansa ilustrasi Makoto Shinkai dari karakter-karakternya. Semuanya terasa melebur menjadi satu sehingga kita masih bisa merasa bahwa ini adalah film milik Makoto Shinkai. Namun, mungkin bagi penonton yang tidak terlalu biasa dengan film Jepang mungkin akan merasa desain karakter di animasi-animasi Jepang terasa mirip, apalagi jika dikaitkan dengan Hayao Miyazaki atau Mamoru Hosoda.
Contoh yang bisa dilihat dari mudahnya adaptasi desain karakter Masayoshi Tanaka ke karya Makoto Shinkai adalah cameo dari Yukino, yang juga merupakan tokoh utama di film Makoto Shinkai sebelumnya, Garden of Words (Kotonoha no Niwa). Keduanya didesain oleh desainer yang berbeda, namun keduanya mirip dan mudah dikenali.
maupun gerakan-gerakan dari karakter maupun benda-benda bergerak. Walau begitu, visualnya lebih berat kepada ilustrasi maupun kualitas bentuk-bentuk. Gerakan-gerakan yang ditampilkan terkesan realistis, tidak spesial namun baik. Contoh sederhana bisa dilihat di bawah ini. Gerakannya sebenarnya halus dan sangat baik, namun tidak terasa maksimal jika tidak dilihat dalam kualitas yang baik. Yang membuat film ini istimewa dari segi visual adalah kualitas pemandangan yang membuat Kimi no Na Wa terlihat begitu istimewa untuk dilihat maupun dinikmati alurnya. Dengan kata lain, film ini tidak bisa dinikmati setengah-setengah.
Tidak banyak film teatrikal, apalagi animasi, yang mengundang satu band untuk mengisi lagu dan soundtrack sekaligus. Layaknya Phil Collins bagi Disney, RADWIMPS mengemban tugas tersebut dengan baik. Sebagai film yang mengangkat tema kehidupan remaja dengan bumbu fantasi, tentunya musik yang dibawa lebih menggebu-gebu namun tetap mempertahankan nuansa sendu ala Makoto Shinkai. Yang baik adalah kerjasama Makoto Shinkai dan RADWIMPS untuk menyelaraskan musik serta animasi sampai harus dirombak agar bisa sesuai.
Mari kita berbicara mengenai keterlibatan RADWIMPS di film ini. Mereka memiliki desain musik yang bertipe semi-rock sehingga nuansanya cukup cerah dan menggebu-gebu. Uniknya, musik yang mereka angkat juga memadukan nuansa sendu seperti string dan gitar akustik. Semuanya disesuaikan dengan adegan-adegan yang ditampilkan. Misalnya, ada perbedaan penggunaan instrumen musik di adegan desa (yang menekankan string ) dengan kota (yang menekankan musik komputer). Ada pun adegan-adegan intens menggunakan drum dan string sebagai pembangun suasana. Namun, seperti film-film ComixWave pada umumnya, musik latar yang digunakan tetap dijaga ketenangannya agar tidak memberikan kesan terlalu epik dan disesuaikan dengan latar belakangnya yang adalah cerita modern.
Lagu-lagu yang mereka pakai juga memiliki nada-nada yang saling melengkapi satu sama lain. Jika didengar lebih dekat, nada dasar lagu “Zenzenzense” (insert song pada pertengahan film) dan “Sparkle” (insert song pada klimaks film) sama. Ada pun “Kataware-doki” (background music pada klimaks film) memakai nada-nada dari lagu “Yumetorou” (opening song). Metode seperti ini meningkatkan kenikmatan penonton agar musik yang disertakan memang betul-betul melebur dalam filmnya tanpa harus terganggu dengan naik turun musiknya. Meski mungkin di beberapa bagian terasa terpotong dan tense musiknya terasa jomplang, tapi RADWIMPS menjaga musiknya sedemikian rupa agar tetap menjadikan Kimi No Na Wa sebagai titel remaja yang cerah dan berjiwa muda.
Dari sisi karakter, seiyuu dari setiap karakter dipasang dengan baik. Kamishiraishi Mone dan Ryuunosuke Kamiki mengangkat karakter Mitsuha dan Taki dengan baik serta memiliki ciri khas tersendiri. Suara Mitsuha lebih solid sebagai karakter remaja wanita dan tampil dengan baik meski ada beberapa adegan yang “goyang”. Sementara itu, suara Taki bisa dibilang memiliki jangkauan yang baik dan unik sehingga ketika ada adegan body-swapping, Ryuunosuke Kamiki bisa mengemban tugas ini dengan baik bahkan cenderung lucu.
Sesungguhnya, karakter-karakter pendukung juga diperankan dengan baik oleh masing-masing pengisi suaranya. Yang unik adalah tidak semua orang tahu bahwa pengisi suaranya bukan pengisi suara profesional di industrinya, karena kebanyakan berasal dari dunia aktor dan aktris Jepang. Kalau pun ada, seperti Aoi Yuuki, Nobunaga Shimazaki, dan Kaito Ishikawa, mereka justru muncul tidak banyak dan suaranya justru tidak terdengar seperti suara yang biasa didengar di seri-seri anime.
Tidak mudah mengangkat nuansa film animasi yang realis namun tetap mempertahankan keajaiban di dalamnya dan melepaskan dirinya dari posisi “anime generik” seperti seri-seri anime lainnya. Mungkin sulih suara di film ini tidak sespesial itu, hanya saja tetap mampu mendukung Kimi no Na Wa sebagai satu kesatuan film yang baik.
Dari segala hal di atas, pendengaran penonton akan tetap terpuaskan dengan segala hal yang dijaga dengan baik oleh tim kreator untuk kepuasan dalam menonton Kimi no Na Wa. Mungkin tidaklah spesial, bahkan cenderung berat sebelah ke musik pendukungnya. Walau begitu, justru yang berada di belakang yang memperkuat keberadaan Kimi no Na Wa sebagai sebuah kesatuan karya yang menggugah segala indera.
Konsep dan Cerita
Jika dilihat secara sederhana, Kimi no Na Wa adalah kisah asmara fantasi berlatarbelakangkan dunia modern. Bagi beberapa penonton, mungkin ada yang mengatakan ini “shoujo ala Makoto Shinkai”. Dengan disuguhkan tema-tema simbolisme seperti “musubi” (ikatan), cerita yang diangkat tentunya membawa penontonnya kepada ikatan antara Taki dan Mitsuha dengan cara yang ajaib dan bisa-bisa sangat luas. Untungnya luasnya ide dari Makoto Shinkai mampu dijinakkan oleh staff lainnya seperti produser Genki Kawamura (Boy and The Beast) dan desain karakter oleh Masayoshi Tanaka (Ano Hana, Ano Natsu).
Beberapa hal yang mungkin menjadi highlight dari Kimi no Na Wa adalah dari segi cerahnya konsep dan karakter, pemakaian tema supernatural yang digabungkan dengan penceritaan paralel, dan berakhir dengan pengemasan yang membawa penontonnya menikmati film ini sebagai sebuah film yang luar biasa.
Karakter
Kimi no Na Wa memiliki alur yang cepat dan cenderung sangat padat. Jika dilihat lebih dekat, 1/3 dari film diusahakan oleh tim kreator untuk mendekatkan penonton dengan interaksi unik antara Mitsuha dan Taki melalui adegan-adegan tukar tubuh mereka. Sisanya dipakai untuk perkembangan cerita itu sendiri.
Sesungguhnya, kecepatan perkembangan cerita di Kimi no Na Wa berpedang mata dua. Di satu sisi, padatnya cerita tetap mengikat penonton kepada ceritanya. Di sisi lain, padatnya cerita membuat minimnya kejelasan perkembangan karakter bahkan cenderung dipertanyakan. Contoh sederhana seperti “berapa lama cerita ini berkembang sampai Taki dan Mitsuha merasakan ikatan satu sama lain?” atau “seberapa besar ikatan hubungan mereka?”. Mungkin Kimi no Na Wa bisa dikembangkan sebagai serial pendek agar bisa mengikat penontonnya kepada hubungan antarkarakternya.
Secara pengembangan karakter, saya merasakan adanya usaha untuk menyeimbangkan perkembangan antara dunia Taki dan dunia Mitsuha. Jika dilihat lebih dalam, perbandingannya sebenarnya pada hal yang berbeda namun tetap melebur dengan baik, seperti Taki pada perkembangan kehidupan sosialnya sementara Mitsuha pada perkembangan lore legenda daerahnya. Keduanya dikembangkan dari sudut yang berbeda namun saling mengisi. Namun, perkembangannya kurang sesuai dengan apa yang dijanjikan melalui premis yang ditampilkan sejak awal, yaitu Taki yang merindukan kehidupan tenang jauh dari perkotaan dan Mitsuha yang menginginkan kehidupan modern melebihi daerahnya. Jadi, penonton mungkin kurang terasa disuguhi oleh perasaan Taki akan keinginannya merindukan pedesaan dan lebih terfokus dari bagaimana dia mengelola ingatannya sendiri.
Ada pun hal menarik dari Kimi no Na Wa adalah kekayaan karakter yang dimanfaatkan sedemikian rupa, terutama dari sisi Mitsuha dan desa Itomori yang kental akan budaya daerah Jepang yang mungkin tidak sebegitu terjamahnya di industri animasi Jepang. Jika didengar lebih dalam, Mitsuha dan teman-temannya memakai logat daerah. Bahkan salah satu lagu temanya, Nandemonaiya, memakai logat daerah. Tidak heran setelah ini akan semakin banyak orang yang mulai mengulik-ulik kembali kekayaan budaya Jepang dari karakterisasi karakter-karakter di Kimi no Na Wa.
sumber: nautiljon.com | Okudera Miki (VA: Nagasawa Masami) adalah salah satu karakter yang disorot penonton selain Mitsuha dan Taki.
Selain itu, penggunaan karakter-karakter sampingan dalam masing-masing pihak cukup menarik. Keduanya memiliki pihak aktif dan pasif namun krusial. Contohnya, Mitsuha memiliki Tessie/Teshigawara Katsuhiko dan Sayaka Natori, teman sekelasnya, yang aktif di dalam menghadapi permasalahannya, namun karakter kunci justru kepada neneknya (Hitoha) dan ayahnya (Toshiki). Sementara itu, Taki memiliki dua teman sekolah, Tsukasa Fujii dan Shinta Takagi, namun yang dominan mengambil peran dalam perkembangan cerita justru Tsukasa dan Okudera Miki. Terlihat bahwa porsi karakter-karakter sampingan juga ditentukan berdasarkan perkembangan kedua karakter utama, dikarenakan karakter “dominan” dari masing-masing karakter utama memiliki peran besar meski tidak berporsi banyak dalam film ini.
Konsep dan Simbolisme
Sebagai film yang mengangkat tema “bertukar tubuh”, Kimi No Na Wa tidak bisa dikonsep dengan begitu gampangnya. Sekedar informasi, tim Kimi No Na Wa terinspirasi dari karya-karya fenomenal seperti Inside Mari oleh Shūzō Oshimi, Ranma ½ oleh Takahashi Rumiko, Torikaebaya Monogatari, The Safe-Deposit Box oleh Greg Egan. Semua karya ini terfokus kepada tema “bertukar hidup” atau “bertukar jenis kelamin”, dan semuanya bukanlah karya yang terlalu gampang untuk dipikirkan.
Ketika berbicara soal “bertukar tubuh atau kelamin”, pemikiran yang muncul pertama kali di benak saya (dan mungkin teman-teman yang lain) adalah “bagaimana cara mereka menanggapi dan beradaptasi dengan tubuh yang baru?”
Literatur fiksi yang bertema berikut menampilkan tanggapan pria terhadap tubuh dan gaya hidup wanita, begitu pula wanita terhadap tubuh pria. Di Kimi no Na Wa, film ini tidak kelewatan untuk mengeksplorasi bagaimana Mitsuha dan Taki beradaptasi satu sama lain dengan tubuh barunya. Uniknya, adegan ini cukup menjadi pedang bermata dua bagi penonton, terutama fokus kepada Taki ketika masuk ke tubuh Mitsuha. Di sisi lain, adegan-adegan mereka beradaptasi menjadi humor yang baik dan menyenangkan untuk diikuti.
Tema “kisah asmara fantasi remaja” dalam Kimi no Na Wa mampu menciptakan entitas baru dalam deretan karya dari Makoto Shinkai. Jika ditilik lebih dalam, Kimi no Na Wa lebih banyak mengangkat narasi yang lebih sederhana dibandingkan karya-karya Makoto Shinkai lainnya. Selain itu, keselerasan cerita dengan musik-musik berlirik juga seolah-olah mencerahkan film ini dan berbicara lebih banyak dibandingkan dialog antarkarakter, meski memang kepadatan dialog di Kimi no Na Wa tetap tinggi. Dengan demikian, Kimi no Na Wa lahir sebagai karya yang “cerah dan ramai”.
Sebagai penonton yang sudah lama mengikuti karya-karya Shinkai, Kimi no Na Wa terasa seperti campuran konsep-konsep dari beberapa karya beliau sebelumnya. Kalau mau dijabarkan, Kimi no Na Wa merupakan kisah fantasi dengan nuansa pedesaan dan dreamy ala Hoshi no Ou Kodomo (The Children Who Chase After Lost Stars, 2011) dengan hubungan asmara dengan karakter perempuan lebih tua seperti Kotonoha no Niwa (The Garden of Words, 2013), konflik paralel waktu ala Hoshi no Koe (The Voice of Stars, 2002), konsep bencana saintifik ala Kumo no Mukou (The Place Promised in Our Early Days, 2004), serta konsep kehidupan karakter-karakter remaja seperti beberapa film lainnya, termasuk Byousoku 5 Centimeter (5 Centimeter per Second, 2007). Perbedaan utamanya tentu adalah “kecerahan” dari Kimi no Na Wa.
Simbolisme dan konsep yang diangkat oleh Kimi no Na Wa juga lebih terkesan ajaib dibandingkan karya-karya lainnya yang lebih bersifat sains. Ada pun simbolismenya seperti gelang anyam yang menandakan “ikatan” atau “tali takdir” seperti legenda Jepang mengenai “tali merah takdir” yang mengikatkan dua orang dan kuchikamisake (sake buatan manusia) yang diartikan sebagai keabadian jiwa. Simbol-simbol ini bukanlah khayalan karena memang ada di beberapa kota di Jepang (bahkan dikabarkan sudah begitu populer sampai habis terjual, semua karena Kimi no Na Wa). Terlebih lagi, simbol-simbol ini menjadi “kunci” bagi konsep Kimi no Na Wa, sehingga tidak heran bahwa adegan-adegan yang melibatkan simbol-simbol ini ditampilkan secara sinematik dan terfokus.
Poster ini pun juga merupakan “simbolisme”
Selain itu, konsep-konsep tempat yang dipakai untuk adegan-adegan di Kimi no Na Wa memang bisa ditemukan langsung di Jepang. Misalnya seperti kota fiksional “Itomori” (desa tempat Mitsuha tinggal) terinspirasi dari daerah prefektur Gifu di Jepang. Beberapa lainnya bisa dilihat di artikel milik FastJapan berikut.
Paralelisme dan Paradoks
Seperti yang dijelaskan sebelumnya, Kimi no Na Wa adalah kisah asmara fantasi. Fantasi yang dimaksud bukan hanya soal kisah dua orang bertemu dan jatuh cinta, tapi juga disandingkan dengan bumbu petualangan paralel waktu yang membawa penontonnya melihat berbagai kemungkinan di dalam cerita tersebut. Premis utamanya adalah “menyelamatkan ingatan dua orang”, namun tidak sesederhana itu. Konflik yang muncul adalah meteor yang akan menghancurkan sebuah desa, dan di dalam desa itu ada Mitsuha. Tidak hanya itu, berbagai sudut pandang muncul di dalam film ini sehingga penonton mungkin akan merasa bingung ketika melihat perkembangannya, seperti gumaman “ini siapa?”, “ini di timeline yang mana?”, dan sebagainya.
Secara umum, Kimi no Na Wa dibagi menjadi tiga alur waktu, yaitu alur waktu Mitsuha, alur waktu Taki (3 tahun setelah alur waktu Mitsuha), dan alur waktu gabungan di antaranya. Selain itu, ada bagian ketika tidak ada “waktu” karena pertemuan mereka berdua. Alur waktu Mitsuha sendiri dibagi menjadi dua berdasarkan akhirnya, yaitu desa hancur karena meteor (yang mengantarkan ke alur Taki) dan desa terselamatkan (yang mengantarkan kepada alur waktu gabungan). Di sinilah sebenarnya mengangkat banyak jawaban, seperti kenyataan bahwa Taki lebih muda dari Mitsuha, Mitsuha pernah bertemu Taki sebelumnya di kota, dan simbol-simbol yang sebelumnya dibahas sebenarnya merupakan kunci bagaimana mereka bisa “bersatu” melalui bertukar tubuh.
Timeline kasar Kimi no Na Wa (bisa diperbesar)
Ketika terjadi pertautan waktu, banyak penonton yang bertanya, “siapa yang memulai duluan?”. Film ini awalnya menampilkan Taki dan Mitsuha yang bertukar tubuh. Kondisinya mereka berdua dalam usia yang sama Tapi tidak ada yang menduga bahwa timeline hidup mereka berbeda. Mitsuha berada pada dunia yang 3 tahun sebelum dunia Taki. Dengan demikian, orang-orang berkesimpulan bahwa Mitsuha lebih tua dari Taki dan Mitsuha yang memulai ini semua. Hal ini diperkuat pula dengan tali rambut Mitsuha yang diserahkan kepada Taki yang waktu itu belum mengenal Mitsuha sama sekali. Sementara itu, Taki juga melakukan hal yang menghubungkan mereka berdua dengan meminum kuchikamisake buatan Mitsuha. Dari sini, orang-orang mulai bertanya dan ini menjadi jawaban “telur atau ayam” yang mungkin jawabannya akan subyektif.
Yang menjadi highlight adalah keduanya hilang kenangan satu sama lain setelah pertemuan mereka di tubuh dewa kuil Miyamizu, seolah-olah kejadian pertukaran tubuh mereka hilang satu sama lain. Pertanyaannya adalah apakah mereka betul-betul hilang kenangan dan terkunci di alam bawah sadar atau hanya melupakan “siapa yang bersama mereka melakukan hal tersebut”. Hal ini tidak dieksplorasi lebih jauh, namun perkembangan perasaan mereka berdua pasca-klimaks menjadi sorotan utama di timeline yang baru.
Kimi no Na Wa mampu mengantarkan paralel waktu dengan baik. Semua plot dikaitkan dengan baik, dengan satu adegan di atas gunung yang menyatukan keduanya. Jika ditonton lebih dekat, sebenarnya film ini kaya akan kemungkinan, seperti “bagaimana Mitsuha akan menyelamatkan desanya jika ia tidak pernah bertemu dengan Taki?” atau “siapa yang sebenarnya memulai duluan, Taki atau Mitsuha?”. Namun, film ini sebenarnya menimbulkan banyak pertanyaan, sehingga tidak sedikit orang yang menciptakan banyak analisis atau cenderung menjadikannya sebagai plot hole.
Lainnya
Makoto Shinkai terkenal dengan karya-karyanya yang menjadikan hubungan antara dua orang sebagai “inti” dari cerita, entah yang menyetir cerita tersebut atau menjadi “tujuan” keberadaan karya tersebut. Kimi no Na Wa juga menjadi salah satu filmnya yang menekankan tema tersebut.
Sayangnya, bagi yang merindukan kekuatan dari hubungan mungkin merasakan film ini tidak sedemikian kuatnya di posisi itu. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, Kimi no Na Wa terfokus kepada petualangan paralel antarwaktu yang bertujuan menyelamatkan hidup sebuah desa dengan foreshadowing “menyelamatkan seseorang yang dicintai”. Bisa dibilang ini adalah tema “kekuatan cinta”. Meski begitu, hubungan mereka berdua tidak tereksplorasi dengan maksimal dan masuk ke dalam perkembangan cerita sebagai tonggak utama sehingga terkesan hubungan mereka berdua dikesampingkan sebagai pinggiran dari lingkaran cerita keseluruhan. Walau begitu, terlihat bahwa tim kreator mengharapkan hubungan Taki dan Mitsuha menjadi sorotan utama dari film ini, hanya saja rollercoaster feeling dari klimaks film ini bukanlah dari tempat itu.
Walau begitu, film ini memiliki kejutan-kejutan yang tidak terduga sehingga penonton juga merasakan bahwa ada sesuatu yang berbeda dan cenderung positif terhadap Kimi no Na Wa.
Kejutan terbesar dari Kimi no Na Wa adalah suasana yang berbeda dari kebanyakan film beliau, terutama akhir dari ceritanya. Kebanyakan penonton yang telah mengenal Makoto Shinkai sejak dulu dikenal dengan temanya yang sendu dan cenderung memilukan sampai akhir. Walau begitu, akhir yang baik menjadikan film ini menjadi menarik pula dan menambah daftar jenis karya Shinkai lainnya.
Pada akhirnya, Kimi no Na Wa mengangkat tema yang segar, yang sudah lama dibutuhkan oleh penonton-penonton muda, tanpa harus menghilangkan penuh ciri khas Makoto Shinkai yang tersebar di pendengaran banyak orang. Kisahnya mungkin terasa terlalu padat untuk sebuah film, namun cara tim kreator mengalirkan kisah-kisah di film ini menjadikan petualangan Taki dan Mitsuha menarik untuk dinikmati tanpa harus memikirkan embel-embel “simbolisme” terlalu dalam.
Enjoyment
Mungkin kalian bertanya-tanya, apa yang membuat Kimi no Na Wa menjadi begitu luar biasa, terlepas dari hal-hal yang mungkin membuat film ini menjadi tidak sempurna. Sesungguhnya, enjoyment lah yang membuat Kimi no Na Wa menjadi begitu besar.
Kimi no Na Wa bukanlah sekedar film animasi yang menampilkan visual yang apik maupun jalan cerita yang tidak biasa ataupun suara yang mendukung. Film ini sesungguhnya tidak sempurna, tapi kesempurnaannya tercipta dari eksekusinya. Kimi no Na Wa memiliki kemenangan mutlak pada eksekusi atau pengemasan film menjadi karya yang bisa dinikmati oleh kebanyakan penonton, yang targetnya adalah penonton remaja ke dewasa. Teknis visual yang baik, musik yang kekinian, dan suara yang dijaga sedemikian rupa memperlihatkan betapa berhati-hatinya tim kreator dalam menciptakan Kimi no Na Wa.
Ada pun tema-tema yang diambil adalah tema yang mungkin tidak banyak diambil oleh kreator-kreator lain dengan media demikian, seperti tradisi “Kuchikamisake” (sake yang difermentasi dalam mulut) dengan “bijinshu” (pembuat kuchikamisake), “Musubi” (kesimpulan, kesatuan), dan pengingat akan gempa Tohoku 2011. Terlebih lagi, kehadiran Kimi No Na Wa “tepat” pada saat penonton-penonton sedang dalam kekosongan film animasi yang “segar” untuk kalangannya.
Film ini bukanlah film yang bisa dinikmati hanya dengan menonton di layar kecil atau audio yang biasa-biasa saja. Kimi no Na Wa didesain agar bisa disaksikan dengan sensasi maksimal di layar lebar. Mungkin dimensi layarnya tidak Widescreen seperti kebanyakan film yang diputar di Indonesia sehingga tidak memaksimalkan ruang. Selain itu, seperti yang dijelaskan sebelumnya, visual Kimi no Na Wa mengutamakan kualitas ilustrasi dan bentuk-bentuk karakter pada tiap adegan sehingga hal ini jauh lebih bisa dinikmati dengan audio maupun visual kualitas tinggi.
Sensasi demikian yang dihadirkan cukup terbayarkan, terutama untuk adegan-adegan yang melibatkan pemandangan khas Makoto Shinkai. Tidak mengherankan jika pada akhirnya Kimi no Na Wa hadir dalam versi luar biasa seperti IMAX.
Walau begitu, seperti yang dijelaskan sebelumnya, Kimi no Na Wa terfokus kepada enjoyment atau kenikmatan orang-orang menonton, sehingga resource seperti animasi, musik, karakter, dan konsep ditata sedemikian rupa agar orang-orang tetap terpikat kepada film ini selama 109 menit. Bagi beberapa penonton yang jeli, mungkin akan merasa banyak hal yang terasa tidak masuk akal bahkan cenderung menghilangkan kesempurnaan dari film ini. Tentunya tidak ada film yang bisa menyenangkan semua orang dari segala sisi, namun Kimi no Na Wa membuktikan bahwa Makoto Shinkai dan ComixWave mampu menarik perhatian penonton di luar pasar animasi melalui enjoyment yang mereka sajikan.
Sebagai penonton yang sudah menonton karya Makoto Shinkai sebelumnya, film ini memudarkan kekuatan Makoto Shinkai pada penceritaan sebagaimana yang beliau tampilkan pada film-film sebelumnya. Walau begitu, ini adalah pembuktian bahwa beliau mampu membuat film yang “membumi” namun tetap berusaha menekankan nuansa sendu dan konsep mengenai “hubungan” antara dua orang dengan maksimal.
Kesimpulan
Kimi no Na Wa adalah karya Makoto Shinkai yang dikembangkan dengan luar biasa, melebihi karya-karya beliau lainnya. Lucunya, perkembangannya begitu luar biasa sampai kelewat upgrade, sampai-sampai nuansa “Shinkai”-nya terasa pudar. Meski demikian, materi-materi di dalamnya menjadikan Kimi no Na Wa sebagai karya yang “segar” dan “kekinian”, sesuatu yang dibutuhkan oleh penonton-penonton usia produktif di Jepang maupun luar Jepang.
Tidak heran jika banyak orang yang menyukai film ini sebagai suatu kesempurnaan, terutama bagi penonton yang belum menikmati karya-karya Shinkai sebelumnya. Namun bagi yang sudah pernah menikmati karyanya, mungkin film ini berpedang mata dua, entah menganggap ini sebagai sebuah pertobatan untuk mendekatkan Makoto Shinkai bagi dunia atau justru menjadi pengkhianatan akan kerinduan penonton terhadap karya yang tidak biasa dari tangan Makoto Shinkai yang tidak pernah biasa.
Manusia selalu berharap akan sebuah kesempatan. Namun, untuk mencapai kesempatan, mereka harus dihadapkan kepada nasib yang mengantarnya kepada beberapa pilihan. Kadang mereka hanya datang sekali, dua kali jika kita begitu beruntung. Salah satu cara meraih kesempatan tersebut adalah dengan mengingat akan sesuatu yang menghubungkan kita dengan kesempatan itu. Semua makhluk hidup memiliki insting untuk itu, termasuk manusia.
Namun seringkali manusia melupakan hal yang sederhana yang justru menghubungkannya dengan dunia. Salah satunya adalah nama. Jika manusia berinteraksi, hal yang dia akan ingat salah satunya adalah nama. Hal ini tidak pernah berubah dari zaman ke zaman. Dan jika nama itu begitu berharga, mereka tidak akan pernah melupakannya.
Jika kamu berkesempatan menyelamatkan masa depan, apa yang akan kamu lakukan? Dan jika masa depan yang diharapkan itu sampai, apakah kamu akan mengingatnya? Apakah kamu akan menjadikannya ingatan penuh impian layaknya yang kamu begitu hargai di masa itu?
Kimi no Na Wa (Your Name) telah diputar di sejumlah negara, termasuk Indonesia pada tanggal 7 Desember 2016 di bawah distributor Encore Films.
mohon di baca sebentar
note: jangan beranggapan kalo orang suka kartun itu dominan anak kecil
tapi untuk anda semua ketahui.karakter itu di bentuk bukan dari sebuah film tapi dari tingkah laku
ya.itu menurutku suatu hal agak mempersempit sebuah teori
bahwa orang dewasa itu kadang jenuh dengan kehidupan yang lebih tinggi tingkat kepentingannya
namun di balik karakter yang unik ini
akan tau bahwa semua orang ingin bisa beralih sekilas massa dimana kita bernostalgia
karena waktu tak bisa di ulang
namun hanya sebuah film atau cuma foto
yang bisa membawa kita ingat dimassa orang itu berusaha
mendedikasikan karyanya
dan mempersembahkan untuk orang lain
bukan hal yang aneh menurut saya
bahkan saya pun berpikir
berbalik
karena apa?
tidak semua orang tau kehidupannya di massa lalu
maka dengan memberikan sebuah gagasan itu
seorang seniman mampu
menorehkan semua inspirasinya
melalui karyanya yang bisa memberikan hasil yang luar biasa
jadi intinya hargai para seni di sekeliling kita
karena tempat kita terbatas
untuk mengekspresikannya
jangankan memberikan hiburan yang menarik namun kadang di sindir sebagai orang
yang sebagai orang maaf..perusuh
wah..amat sangat kurang mendidik
apapun bentuk celotehannya
sebagai pelaku seniman dunia,maupun masih pemula


Komentar
Posting Komentar